Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Tuesday, January 6, 2009

mungkinkah disini berakhir segalanya?

Dengan Nama ALLAH Yang Maha Pemurah Lagi Maha Penyayang..

malam semalam, lama aku berfikir...
mungkinkah disini berakhir segalanya??
Siapa yang harus dipersalahkan???
apa yang akan terjadi hari-hari esok??

tiada kata yang mampu aku luahkan....
hanya memikir dan terus berfikir...

mengapa semuanya ini terjadi...
tergamaknya mereka....
membalas susu dengan tuba...

betullah kata Tun Mahathir, mengisi kemerdekaan rupanya lebih perit dan payah dari mendapatkan kemerdekaan, begitu jugalah dengan perjuangan ini..

apakah hati-hati ini harus ditaburkan lagi janji,
atas nama perjuangan, dirempuh segala onak dan duri,
namun, ia pasti terjadi lagi,
mengeraskan hati, biar terkunci mati...
agar segalanya untuk kemudian hari..
demi kesejahteraan di bumi ini..

ku sisipkan puisi ini, hayatilah pemuda pemudi

Kalau kita menjadi kayu

Kalau kita menjadi kayu
Biarlah jadi ghaharu atau cendana
Wangi dan bernilai tinggi
Atau paling tidak
Jika terpaksa cukuplah jadi
Kayu api
Asal punya harga diri

Tetapi jika mahu jadi kayu
Majal, keras dan padu
Seperti cengal, keruing atau meranti
Itu juga pilihanmu
Cuma, jangan pula nanti
Sampai sanggup jadi hulu
Yang rela diperkudakan kapak
Hingga tergamak menetak
Kaum sendiri

Read more...

Tuesday, December 23, 2008

Bukankah Kepadamu Dulu Telah Aku Katakan

Seorang pengembara yang baru pulang
tiada rupa terukir diwajahnya
tiada kata, tiada bahasa, terucap dibibirnya
melutut dia dihadapannya
hanya tangisan melukis perasaan

maka, berkatalah si ayah kepada anaknya;
bukankah kepadamu dulu telah aku katakan
bahasamu,jati dirimu
cintailah dia,
hargailah dia
daulatkanlah dia
kuasailah dia sebaik-baiknya
rupa-rupanya pesan ini tidak kau hiraukan
maka kekallah engkau selamanya
ada wajah, tiada rupa

Kata si ayah lagi;
bukankah kepadamu dulu telah aku katakan
agamamu tonggak hidupmu
berpeganglah kepadanya
pelajarilah dia sedalam-dalamnya
taatilah dia
jangan engkau salahgunakan dia

rupa-rupanya engkau tidak mempedulikan
maka kosonglah harimu
maka tanduslah jiwamu
tercari-cari dalam kembara yang tidak perlu

Sambung si ayah lagi;

bukankah kepadamu dulu telah aku katakan
bumi ini tempat berpijak
langit ini tempat berteduh
pijaklah bumi ini dengan segala kecintaan
junjunglah langit ini dengan segala kebanggaan
jelajahlah seluruh dunia dengan sauhmu kukuh disini

Rupa-rupanya engkau memilih untuk menganggap sepi
maka terpinggirlah hidupmu kini
tiada bumi untuk dipijak
tiada langit untuk dijunjung
tiada kompas ditanganmu untuk membantumu mancari jalan pulang

sambil menekan-nekan bahu anaknya
yang bagaikan alon degerak esak tangisan
Si Ayah mengakhiri kata;

usahlah kau tangisi juga lagi
usahlah kau kesali juga lagi
bukankah kepadamu dulu telah aku katakan
bukankah kepadamu dulu telah aku katakan
bukankah kepadamu dulu telah aku katakan

Awang Had Saleh

Read more...

  © Free Blogger Templates Blogger Theme by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP